Tasawuf
1. Pengertian Tasawuf
Banyak para tokoh sufi yang mendefinisikan tasawuf dengan berbeda, karena perbedaan sudut pandang dari masing-masing individu. Adapun para tokoh sufi tersebut, yaitu :
a. Ma‘ruf al Karkhi : mengambil hakikat dan meninggalkan yang ada di tangan mahkluk
b. Abu Bakar Al Kattani : budi pekerti, barangsiapa yang memberikan bekal budi pekerti atasmu, berarti ia memberikan bekal bagimu atas dirimu dalam tasawuf
c. Muhammad Amin Kurdi : suatu yang dengannya diketahui hal ihwal kebaikan dan keburukan jiwa, cara membersihkannya dari yang tercela dan mengisinya dengan sifat-sifat terpuji,cara melaksanakan suluk dan perjalanan menuju keridhaan Allah dan meninggalkan larangannya
Menurut Abuddin Nata meskipun setiap para tokoh sufi berbeda dalam mengartikan tasawuf, tetapi pada intinya sama. Tasawuf adalah upaya melatih jiwa dengan berbagai kegiatan yang dapat membebaskan dirinya dari pengaruh kehidupan dunia, sehingga tercermin akhlak yang mulia dan dekat dengan Allah. Dapat diartikan juga dengan suatu kegiatan yang berhubungan dengan pembinaan mental rohaniah agar selalu dekat dan bersama Allah.
2. Kemunculan Tasawuf
Abad pertama dan kedua Hijriah sekelompok kaum muslim memusnahkan perhatian memprioritaskan hidupnya hanya pada pelaksanaan ibadah untuk mengejar keuntungan akhirat Mereka adalah, antara lain: Al-hasan Al-Basri dan Rabi`ah Al-Adawwiyah kehidupan “model” zuhud. Kemudian berkembang pada abad ketiga Hijriah, ketika kaum sufi mulai memperhatikan aspek-aspek teoritis psikologis dalam rangka pembentukan perilaku, sehingga tasawuf menjadi sebuah ilmu akhlak keagamaan.
Pembahasan luas dalam bidang akhlak mendorong lahirnya pendalaman studi psikologis dan gejala-gejala kejiwaan yang lahir. Kemudian dalam masalah-masalah ini berkaitan langsung dengan pembahasan mengenai hubungan manusia dengan Allah. Sehingga lahir konsepsi-konsepsi seperti Fana` terutama Abu Yazid Al-Busthami . Munculnya istilah tasawuf baru dimulai pada pertegahan abad III Hijriyah oleh Abu Hasyim-Kufi.
Hasan
adalah pendukung kuat nilai tradisional dan cara hidup zuhud, kehidupan duinia
hanyalah perjalanan untuk ke akhirat, dan kesenangan dinafikan untuk
mengendalikan nafsu. dia merupakan tokoh sufi dalam islam
Isi pokok ajaran Tasawuf:
a. Tasawuf akhlaqi
Menurut pandangan kaum sufi manusia kalah dengan hawa nafsunya. seharusnya sebagai manusia bisa menahan nafsu yang tidak baik bukan mengikutinya.Tindakan manusia yang dikendalikan oleh hawa nafsu dalam mengejar kehidupan duniawi merupakan tabir penghalangantara manusia dan tuhan.ahli tasawuf membuat suatu sistem yang tersusun atas dasar didikan tiga tingkat, sebagai berikut :
- Takhalli : membersihkan diri terhadap sifat tercela dan tidak bergantung pada kemegahan duniawi. Maksiat di bagi menjadi dua yaitu lahir dan batin. Maksiat lahir merupakan sifat tercela yang dikerjakan oleh tangan, mulut dan mata. Maksiat batin merupakan sifat tercela yang diperbuat oleh batin.
- Tahalli : mengisi diri dengan sifat-sifat terpuji dengan taat lahir dan taat batin. Kemudian membiasakan diri dengan sifat, sikap, dan perbuatan yang baik.
- Tajalli : terungkapnya nur gaib untuk hati atau menerima pancaran nur illahi.
Jalan kepada Allah ada dua usaha yaitu :
- Mulazamah : terus berdzikir kepada Allah
- Mukhalafah : menghindarkan diri dari segala sesuatu yang dapat melupakannya.- Munajat : menyampaikan segala keluhan dan mengadu nasib dengan untaian kalimat yang indah seraya memuji keagungan Allah. Biasanya dilakukan dalam keadaan hening.
- Muraqabah dan muhasabah : hasil dari pengetahuan dan pengenalan seseorang terhadap Allah, hukum-hukumnya dan ancaman-ancamannya. Dampaknya meningkatkan sikap mental dan terhindar dari keraguan dan selalu taat pada Allah.
- Memperbanyak dzikir, sholat lima waktu dengan tepat dan melakukan sholat sunnah yang lainnya.
- Mengingat bahwa didunia hanya sementara
- Tafakkur berasal dari bahasa Arab yang berupa kata kerja atau fi'il yaitu tafakkara, yang artinya berfikir, memikirkan, merenungkan atau meditasi. Kemudian menurut orang awam tafakkur berarti sebagai jalan untuk mengenal tuhan dilakukan melalui akal yang berpusat dikepala, maka orang-orang sufi mengatakan bahwa hal itu dilakukan melalui hati yang berpusat di dada.
- Al-Ghazali memilih tasawuf sunni berdasarkan Al-Qur’an dan sunnah Nabi ditambah dengan doktrin Ahlu Al Sunnah wa Al-jama’ah. Corak tasawufnya adalah psikomoral yang mengutamakan pendidikan moral yang dapat di lihat dalam karya-karyanya seperti Ihya’ullum, Al-Din, Minhaj Al-‘Abidin, Mizan Al-Amal, Bidayah Al Hidayah, M’raj Al Salikin, Ayyuhal Wlad
- ma’rifat adalah mengetahui rahasia Allah dan mengetahui peraturan-peraturan Tuhan tentang segala yang ada, alat untuk memperoleh ma’rifat bersandar pada sir-qolb dan roh
- As-As’adah : kelezatan dan kebahagiaan yang paling tinggi adalah melihat Allah.
3. Tokoh-tokoh Tasawuf
a. Hamzah Fansuri
Syeikh Hamzah Fansuri dan muridnya Syeikh Samsudin Sumatrani adalah tokoh sufi yang sepaham dengan Al- Hallaj, faham hulul. Ittihad. Mahabbah, dan lain- lain adalah seirama. Sangat populer pada jamannya dengan kesastraan Melayu dan Indonesia. Sufi yang sangat berpengaruh dalam kehidupan intelektual Al-Fansuri adalah Muhyiddin Ibnu. Karya- karya Al- Fansuri juga menunjukkan bahwa dia akrab dengan ide- ide para sufi, semisal Al- jilli (wafat 832H/ 1428 M), Aththar (wafat 618 H/ 1221 M), Rumi (wafat 672 H / 1273 M).
b. Syeikh Yusuf Makasari
Berasal dari Sulawesi dan lahir pada 08 syawal 1036 H atau bersamaan dengan 03 juli 1629 M, yang berarti belum beberapa lama setelah kedatangan tiga orang penyebar Islam kesulawesi (yaitu Datok Ribanding dan kawan-kawannya dari Minang kabau). Beliau dapat gelar Tuanku Samalaka, Abdul Mahasin, Hidayatullah dan lain-lain. Dalam salah satu karangannya beliau menulis diujung namanya dengan bahasa Arab “Al- mankasti”, mungkin yang beliau maksudkan adalah “Makassar” yaitu nama kota disulawesi selatan dimasa pertengahan dan nama kota itu sekarang diganti pula dengan “ ujung padang “ mengambil nama yang lebih tua dari pada nama Makassar. Beliau banyak belajar tentang ilmu-ilmu agama.
c. Syeikh Abdul Rauf As- singkili
Lahir di Aceh tahun 1024 H/ 1615 M. nama aslinya adalah Aminuddin Abdurrauf bin Ali Al- jawi Al- fansuri As- singkili. Ayah beliau yaitu Syeikh Ali Fansuri R.A berasal dari kalangan ulama dan keturunan Arab yang menikahi seorang wanita setempat dari Fansuri dan bertempat tinggal disingkil. Syeikh Abdulrrauf kembali ke Aceh sekitar tahun 1662 M dan setibanya dikampung mengajarkan dan mengembangkan Thariqat Syataryyah, As- singkili dinilai sebagai tokoh yang cukup berperan dalam mewarnai sejarah tasawuf diindonesia pada abad 17. Beliau adalah ulama besar dan tokoh tasawuf dari Aceh yang pertama kali mengambangkan Tharikat Syatariyah di Indonesia. Murid beliau banyak dan tak hanya di Aceh saja melainkan dari berbagai penjuru tanah air. Saat Aceh menjadi tempat persinggahan jama’ah haji yang hendak berangkat ke Mekkah, tidak sedikit jama’ah haji yang kemudian belajar Agama dan Tasawuf.
4. Tasawuf Era Modern
Yudi Latif di dalam bukunya mengatakan: Hegemoni sains dan teknologi yang memicu revolusi industri dan informasi, telah mempersoalkan bangsa manusia, apabila tidak disokong dengan ide-ide mulia keagamaan akan terus membawa manusia menjadi setengah manusia.8 Disatu pihak dia telah memberi produksi yang melimpah dan konsumsi tinggi untuk memenuhi kebutuhan biologis.
Namun disisi lain dia mengabaikan kebutuhan rasa aman, kasih sayang, martabat kemanusiaan, kebebasan, kebenaran, keadilan dan tanggung jawab sains dan teknologi telah membawa kemajuan-kemajuan yang agung dan luhur diberbagai bidang kehidupan, tetapi di wilayah lain, seperti kebijakan-kebijakan nasional dan internasional menyangkut hubungan manusia kita masih primitif.
Maka sia-sialah orang shalat, orang yang lalai dalam shalatnya, juga berbuat riya, dan enggan berderma untuk kemanusiaan Kehidupan di era ini lebih terarah kepada individualistis, nafsi-nafsi, karena yang mereka kejar materi, mereka terlalu mendewa-dewakan materi dan kesenangan sesaat, karena menurut anggapan mereka materi adalah simbol keberhasilan, bermartabat dan kehidupan yang bergengsi, dengan itu semua kehidupan orang modern lebih leluasa, karena kehidupan yang dituju hanya satu yaitu kehidupan dunia, sementara agama mereka lupakan.
Islam memiliki anjuran dan kepercayaan kepada adanya tanggung jawab yang mutlak bersifat pribadi di hadapan Tuhan pada hari akhir, seperti dicontohkan oleh Umar ibn Khattab merupakan tantangan bermoral bagi manusia di dunia ini,10 umat Islam sebagai ummatan wasathan (umat moderat) (Q S 2: 143), yang mengemban tugas sebagai syuhada yakni rujukan kebenaran dan standar kebaikan bagi umat manusia.
Marshal G S. Hudson di dalam bukunya “The Venture of Islam” berkata visi dan keyakinan Islam masih tetap memiliki kekuatan dan harapan untuk memasuki dunia modern, tetapi ketika pergaulan mondial yang demikian plural dan global, cetak biru sosial yang ditawarkan belum memiliki.
Komentar
Posting Komentar