PENGERTIAN,SEJARAH,MODEL PENELITIAN, DAN TOKOH DALAM FILSAFAT ISLAM
1. Pengertian kata Filsafat
Pembentukan kata filsafat menjadi kata Indonesia diambil kata Barat fil dan safa dari kata Arab sehingga terjadilah gabungan antara keduannya dan menimbulkan kata filsafat.Akan tetapi kata shopia oleh orang Arab dipindahkan ke dala bahasa mereka dengan kata hikmah. filsafat adalah hasil kerja berfikir dalam mencari hakikat segala sesuatu secara sistematis,radikal, dan universal. Sedangkan filsafat islam itu sendiri adalah hasil pemikiran para filsuf tentang kebutuhan,kenabian,manusia dan alam yang disinari ajaran agama islam dalam sesuatu pemikiran yang logis dan sitematis.
2. Sejarah Filsafat Islam
Filsafat islam adalah juga sering disebut filsafat Arab dan filsafat umum merupakan suatu kajian sistematis terhadap kehidupan,alam semesta, etika,moralitas, pengetahuan , pemikiran, dan gagasan politik yang dilakukan didalam dunia islam atau peradapan umat muslim dan berhubungan dengan ajaran-ajaran umat islam.dalam islam,terhadap dua istilah yang erat kaitannya dengan pengertian filasat-filsafat (secara harfiah “filsaafat”) yang merujuk pada kajian filosofi,ilmu pengetahuan alam dan logika, dan kalam (secara harfiah berarti “berbicara”) yang merujuk pada kajian teologi keagamaan.merujuk pada periodisasi yang dicetuskan Harun Nasution, perkembangan kajian filsafat islam dapat dibagi ke dala tiga periode yaitu periode klasik,periode pertengahan,dan dan periode modern.
Aktifitas yang berhubungan dengan kajian filsafat islam kemudian mulai berkurang pasca kematian Ibnu Rusyd pada abad ke-12 M. Terdapat banyak pendapat yang menganggap Al-Ghazali sebagai sosok utama dibalik kemunduran kajian filsafat islam. Gagasan-gagasan Al-Ghazali yang diterbitkan dalam bukunya Tahafut al-Falasifa dipandang sebagai pelopor lahirnya kalangan islam konservatif yang menolak kajian filsafat dalam islam. Buku ini memuat kritik terhadap kajian filsafat yang ditawarkan oleh filsuf seperti Ibnu Sina dan Al-Farabi yang dianggap mulai menjauh nilai-nilai keislaman.
3. Model-model penelitian dalam Filsafat
A. Model M. Amin Abdullah
Dilihat dari segi judulnya, penelitian ini mengambil metode penelitian kepustakaan yang bercorak deskriptif, yaitu penelitian yang mengambil bahan – bahan kajianya pada berbagai sumber baik yang ditulis oleh tokoh yang diteliti itu sendiri (sumber primer), maupun sumber yang di tulis oleh orang lain mengetahui tokoh yang ditelitinya itu (sumber sekunder).
Bahan – bahan tersebut selanjutnya diteliti keotentikannya secara seksama; diklasifikasikan menurut variabel yang ingin ditelitinya, dalam hal ini masalah etik; bandingkan antara stu sumber dengan sumber lainnya; dideskripsikan (duraikan menurut logika berpikir tertentu), dianalisa dan disimpulkan.Selanjutnya dilihat dari segi pendekatan yang diguakan, M Amin Abdullah kelihatannya mengambil pendekatan studi tokoh dengan cara melakukan studi komparasi antara pemikiran kedua tokoh tersebut (al – Ghozali dan Immanuel Kant), Khususnya dalam bidang etika.
Biasanya kita korbankan kajian Filsafat, karena kita selalu dihantui oleh trauma sejarah abad pertengahan, ketika Sejarah Filsafat Islam diwarnai oleh pertentangan pendapat dan perhelatan pemikiran antara al – Ghozali dan Ibnu Sina, yang sangat menentukan jalannya sejarah pemikiran ummat Islam.
B. Model Otto Horrassowitz, Majid Fakhry dan Harun Nasution
Dalam bukunya berjudul History of Muslim Philosophy yang diterjemahkan dan disunting oleh M. M. Syarif ke dalam bahasa Indonesia menjadi para Filosof Muslim, Otto Horrassowitz telah melakukan penelitian terhadap seluruh pemikiran filsafat Islam yang berasal dari tokoh – tokoh filosof abad klasik, yaitu al – Kondi, al – Razi, al – Farabi, Ibnu Miskawaih, Ibnu Sina, Ibnu Bajjah, Ibnu Tufail, Ibnu Rusyd dan Nasir al – Din al – Tusi.
Dari Ibnu Tufail dikemukakan pemikiran filsafat tentang akal dan wahyu sebagai yang dapat saling melengkapi yang dikemas dalam novel fiktifnya berjudul Hay Ibnu Yaqzan yang telah diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia; tujuan risalah, doktrin tentang dunia, tuhan, kosmologi cahaya, epistomologi, etika, filsafat dan agama. Selanjutnya dari Ibnu Rusyd, dikemukakan pemikiran filsafat tentang hubungan filsafat dari agama, jalan menuju Tuhan, jalan menuju pengetahuan, jalan menuju ilmu, dan jalan menuju wujud.
Dalam bukunya berjudul A History of Islamic Philosophy dan diterjemahkan oleh Mulyadi Kartanegara menjadi Sejarah Filsafat Islam, majid Fakhri selain menyajikan hasil penelitiannya tentang ilmu kalam, Mistisisme daqn kecenderungan – kecenderungan moderndan kontemporer juga berbicara tentang filsafat.Khusus dalam bidang filsafat, ia berbicara tentang al – Kindi, Ibnu al – Rawandi, al – Razi, Abu Hayyan al – Tauhidy, Ibnu Miskawaih, Yahya bin ;Adi, Ibnu Massarah, Al – Majrithi, Ibnu bajjah, Ibnu Tufail, Ibnu Rusyd, al – Suhrawandi dan Shadr al – Din al – Syirazi. Melalui pendekatan tokoh, Harun Nasution mencoba menyajikan pemikiran filsafat berdasarkan tokoh yang ditelitinya yang dalam hal ini al – Kindi, al – Farabi, Ibnu Sina, al – Ghozali dan Ibnu Rusyd.
C. Model Ahmad Fuad Al – Ahwani
Dalam bukunya ini ia selain menyajikan sekitar problem filsafat Islam juga menyajikan tentang zaman p;enerjemahan, dan filsafat yang berkembang itu kawasan masyriqi dan maghribi. Sedangkan dengan pendekatan kawasan ia mencoba membagi tokoh – tokoh filosof menurut tempat tinggal mereka, danm dengan pendekatan tokoh, ia mencoba mengemukakan berbagai pemikiran filsafat sesuai dengan tokoh yang mengemukakannya. Berbagai hasil penelitian yang dilakuakan para ahli mengenal filsafat Islam tersebut memberi kesabn kapada kita, bahwa pada umumnya penelitian yang diolakukan bersifat penelitian kepustakaan, yaitu penelitian yang menggunakan bahan – bahan bacaan sebagai sumber rujukannya.
Pengkaji filsafat biasanya terbiasa dengan diskusi dan perbincangan yang begitu mendalam tentang uraian – uraian dan kutipan filosof, hampir seolah – olah kutipan – kutipan filosof itu baru saja dihasilkan dan seolah – olah tidak mengalami kesulitan interprestasi yang melelahkan. Berdasarkan informasi tersebut, sebenarnya masih terbuka luas obyek penelitiannya di bidang filsafat Islam, yaitu obyek yang berkenaan dengan cara atau metode yang digunakan oleh para filosof terdahulu untuk kemudian dijadikan sebagai bahan perbenadingan untuk selanjutnya digunakan bagi kepentingan pengembangan pemikiran filsafat lebih lanjut.
Apa yang dikemukakan para peneliti terhadap pemikiran filsafat Islam tersebut nampak selalu menyajikan tokoh yang dari satu sisi ada tokoh yang bersamaan diteliti, dan ada pula tokoh yang tyidak diangkat oleh peneliti yang satu, namun oleh peneliti lainnya diangkat.Apakah karena keterbatasan sumber rujukan yang dimiliki masing – masing, atau karena maksud lainnya yang disebabkan karena peneliti tersebut kurang tertarik atau tidak sejalan dengan tokoh filosof yang ditelitinya.
4. Tokoh – Tokoh Dalam Filsafat
A. AL-KINDI (185-252 H/ 801-866 M)
- riwayat hidup : Pada masa pemerintahan Harun Al-Rasyid yang sangat memperhatikan dan mendorong perkembangan ilmu pengetahuan, Bagdad menjadi pusat perdagangan dan ilmu pengetahuan. Disinilah Al-Kindi lebih luas mengenal ilmu pengetahuan, kesusastraan dan kebudayaan Yunani dan Siria Kuno, ia juga menguasai bahasa Suryani, kemudian menerjemahkan buku-buku ke dalam bahasa Arab.
- karya-karyanya : Karya ilmiah Al-Kindi kebanyakan berupa makalah, tetapi jumlahnya amat banyak. Dalam bidang filsafat karangan Al-Kindi diterbitkan oleh Prof. Abu Ridah (1950) dengan Judul Rasail Al-Kindi Al-falasifah beisi 29 makalah dan oleh Prof. Ahmad Fuad Al Ahwani dengan judul Fi-Al Kitab Al-Kindi Ila Mu’tashim Billah falsafah Al-ula. Dari karangan-karangannya diketahui bahwa Al-Kindi adalah penganut aliran Eklektisitas, dalam metafisika dan kosmofologi ia mengambil pendapat Aristoteles, dalam psikologi ia mengambil pendapat Plato. (A. Mustofa, 1997:102).
- Pemikirannya Tentang Ketuhanan : Persoalan metafisika dibicarakan oleh Al-Kindi dalam bahasa risalahnya antara lain risalah yang berjudul “Tentang Filsafat Pertama” dan “Tentang Keesaan Tuhan dan Berakhirnya Benda-benda Alam.” Pembicaraan dalam soal ini meliputi Hakekat Tuhan, Wujud Tuhan, dan Sifat-sifat Tuhan. Kemudian juga ada beberapa dalil tentang tuhan, barunya alam, Keragaman dan Kesatuan dan pengendalian alam. Dan adapum pemikirannya tentang zat Dan sifat tuhan.
B. AL-FARABI (258-339 H/872-950 M)
Bahasa yang dipakainya sehari-hari ialah bahasa Arab, disamping itu ia tidak lupa mempelajari bahasa Turki dan bahasa Parsi seperti juga ia belajar dan mengamalkan ajaran Islam yang dipeluknya dengan penuh keyakinan. Al-Farabi telah membicarakan berbagai sistem logika sehingga mudah dipahami, iapun telah dapat menjelaskannya dengan baik dan mensistematisirnya dengan teratur, dengan demikian logika itu bertambah mudah dimengerti (Yunasril Ali, 1991: 40).
Adapum Al-Farabi terlebih dahulu membagi wujud yang ada kepada dua bagian :
- Wujud yang Mumkin atau wujud yang nyata karena lainnya
- Wujud Yang Nyata dengan sendirinya
C. AL-GHAZALI (450-505 H/1058-1111 M)
Beliau meninggalkan Al-Ghazali ketika masih kecil, akan tetapi sebelum wafat beliau telah dititipkan kepada seorang sufi pula untuk mendapatkan bimbingan dalam hidupnya sehingga tidak heran kalau pada akhirnya beliau sangat tertarik sekali dengan ilmu tasawuf karena memang bekal yang beliau terima sedari kecil adalah tentang moral dan tasawuf (Abu Ahmadi,1982: 161).Sampai akhirnya beliau meninggalkan pekerjaan sebagai tenaga pengajar dan pergi menuju kota Damsyik dan di kota tersebut beliau tidak menyia-nyiakan waktu untuk merenung, membaca dan menulis selama kurang lebih 2 tahun pada waktu itu tasawuf sebagai jalan hidupnya.
Sesudah itu tergeraklah hatinya untuk menjalankan ibadah Haji di Baitullah El-Haram dan kemudian kembali ke negerinya dan di sana beliau berkhalwat dengan khusu’ yang berlangsung selama 10 tahun lamanya dan selama perpindahannya ke Damsyik beliau meneruskan beberapa ide tentang keagamaan yang kemudian tercetus dalam sebuah kitab yang bernama IHYA’ ULUMUDDIN.
Karya-karyanya : Al-Ghazali adalah seorang pemikir Islam, puluhan buku telah ditulisnya yang meliputi berbagai disiplin ilmu keislaman yang diantaranya Teologi Islam (Ilmu Kalam), Hukum Islam (Fikih), Tasawuf, akhaq dan kesopanan dengan autobiografinya kebanyakan dituangkan dalam bahasa Arab dan yang lainnya dalam bahasa Persi. Kitabnya yang terbesar yaitu IHYA’ ULUMUDDIN yang mempunyai arti meghidupkan ilmu-ilmu agama dan yang dikarangnya selama beberapa tahun dalam keadaan yang berpindah-pindah dari satu tempat lainnya yang berisi paduan yang indah antara fiqh, tasawuf, dan filsafat bukan saja terkenal di kalangan kaum muslimin tetapi juga di dunia Barat dan dunia di luar Islam.
Bukunya yang lain yaitu : ALAMUNQIDZ MIN ADDHALAL (Penyelamat dari kesesatan) berisi sejarah perkembangan alam fikirannya dan mencerminkan sikap yang terakhir terhadap berbagai macam ilmu, serta jalan untuk mencapai Tuhan, ada beberapa penulis modern yang mengikuti jejek Al-Ghazali dalam menulis beberapa autobiografi.Kitab ini sudah diterjemahkan ke dalam bahasa latin yaitu; oleh Dominicus gundissalinus yang berjudul; Logica et philosophia Al-ghazelis Arabis yang menunjukkan adanya kepercayaan yang luar biasa kepada Al-Ghazali khususnya tentang penganut neo Planotis sebagaimana juga Ibnu Sina dan yang lainnya. Buah karya yang lainnya, yang tak kalah pentingnya tentang masalah logika Aristotelian adalah Mi’yarul Ilm (kriteria ilmu-ilmu) yang mana kitab ini dapat memberikan segi tiga pemikiran Al-Ghazali dengan satu kita lagi yaitu ; Tahafatut al-falasifah. Alasan para filosof tentang hal ini adalah bahwa yang baru ini dengan segala peristiwanya selalu berubah, sedangkan ilmu selalu mengikuti apa yang diketahui. Golongan filsuf juga mengatakan bahwa alam ini qadim dan mengakui adanya peruabahan-peruabahan pengertian yang terjadi di dalamnya, yang berarti mereka mengakui adanya perubahan-perubahan pada qadim.
D. IBNU THUFAIL ((Awal Abad VI) 580 H/ 1110-1184 M)
Para penulis sejarah telah menyebut adanya beberapa kitab dan risalah yang ditulis oleh Ibnu Thufail, tatapi sayang hasil karyanya tidak diketemukan lagi, kecualai buku roman filsafat yang berjudul “Hayy Ibnu Yaqzhan fi Asrar al Hikmatil Masraqiyyah” (sihidup anak sijago tentang rahasia filsafat timur). Dua orang muridnya (Al Bitruji dan Ibnu Rusdy) percaya bahwa dia memilki gagasan-gagasan astronomi asli epicycles dan eccentric circle yang dalam kata pengantar dari karyanya Al-Haiah dikemukakannya sebagai sumbangan dari gurunya Ibnu Thufail.
Ia adalah keseragaman dan keanekaragaman dan kekuatan yang tersembunyi dan yang ganjil, suci dan tidak trelihat.Alam bukanlah sesuatu yang lain dari Tuhan, dan sebagai penampakan diri dari essensi Tuhan. Dan mengenai esensi Tuhan yang ditafsirkan sebagai cahaya, yang sifat esensinya merupakan penerangan dan pengejawantahan, sebagaimana dipercaya oleh Al-Ghazali, Ibnu Thufail memandang dunia ini sebagai pengejawantahan dari esensi Tuhan sendiri dan bayangan cahaya-Nya sendiri yang tidak berawal dan tidak berakhir.
Dunia mesti berlangsung dari satu bentuk kebentuk lain, sebab kehancurannya tidak sesuai dengan keberadaan mistis yang tinggi, yaitu bahwa sifat esensi Tuhan merupakan peringatan dan pengejawantahan kekal. Ibnu Thufail membuat perbedaan antara kekekalan dalam waktu dan bahwa Tuhan ada sebelum adanya dunia dalam hal esensi tapi tidak dalam hal waktu.
E. IBNU RUSYD (520-595 H/ 1126-1198 M)
Pendapat Aristoteles itu didasarkan atas suatu argumen sebagai berikut: “Yang menggerakkan itu adalah Tuhan Al-Muharrik yaitu merupakan akal yang murni, bahkan merupakan akal yang setinggi-tingginya. Oleh karena itu pengetahuan dari akal yang tertinggi itu haruslah merupakan pengetahuan yang tertinggi pula agar ada persesuaian antara yang mengetahui dan yang diketahui. Allah memberikan dua dalil dalam kitab-kitab-Nya, yang diringkas oleh Ibnu Rusyd sebagai dalil inyah dan dalil cipta atau ikhtir.
Ayat-ayat yang mewujudkan dalil adalah seperti: Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalatpun walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya (Q.S: Al-Hajj:73) dan ayat-ayat yang mewujudkan dalil inyah adalah seperti : Bukankah kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan dan gunung-gunung sebagai pasak. Persesuaian ini bukan terjadi secara kebetulan, tetapi menunjukkan adanya penciptaan yang rapi dan teratur yang didasarkan atas ilmu dan kebijaksanaan sebagaimana yang ditunjukkan oleh ilmu pengetahuan modern.
Dalil Ikhtir Dalil Ikhtir ini sama dengan dalil inyah karena adanya penciptaan nampak jelas pada hewan yang bermacam-macam, tumbuh-tumbuhan dan bagian-bagian alam lainnya. Disamping kedua dalil di atas yaitu dalil inyah dan ikhtir’ Ibnu Rusyd mengemukakan dalail lain yaitu dalil gerak atau dalil penggerak pertama yang diambil drai Aristoteles. Dalil tersebut menyatakan bahwa alam semesta ini bergerak dengan suatu gerakan yang abadi, dan gerakan ini mengandung adanya penggerak pertama yang tidak bergerak dan tidak berbenda yaitu Tuhan.
Akan tetapi Ibnu Rusyd tidak mengikuti pikiran Aristoteles yang mengatakan bahwa gerakan benda-benda langit adalah qadim karena Ibnu Rusyd mengatakan bahwa benda-benda langit beserta gerakkannya dijadikan oleh Tuhan dari tiada dan bukan dalam zaman, karena zaman tidak mungkin mendahului wujud pertama yang bergerak selama zaman itu kita anggap sebagai ukuran gerakannya.
Komentar
Posting Komentar