ILMU KALAM

 A. PENGERTIAN

Kata “kalam” diartikan dengan pendekatan atau kata (terutama bagi Allah). Sedangkan menurut bahasa dalam perspektif tauhid yaitu ilmu yang membicarakan atau membahas tentang masalah ketuhanan atau ketauhidan (mengesankan Allah). Ibnu khaldun memberikan pengertian bahwa ilmu kalam ialah ilmu yang berisi alasan-alasan mempertahankan kepercayaan-kepercayaan iman dengan menggunakan dalil-dalil pikiran dan berisi bantahan terhadap orang-orang yang menyeleweng dari kepercayaan-kepercayaan aliran golongan salaf dan ahli sunah. 

B. LATAR BELAKANG

Ilmu kalam, sebenarnya belum dikenal pada masa sahabat Khulafaur Rasyidin, apalagi pada masa Rasulullah SAW. Ilmu ini hadir pasca umat islam trlah sampai pada titik kemakmuran dan kemapanan (establish). Menurut Ahmad Hanafi, kemunculan ilmu kalam dilatar belakangi oleh beberapa faktor, yaitu internal dan eksternal.

Faktor internal yaitu :

  • adanya dorongan dari Al-Qur'an
  • umat islam mengalami kemajuan 
  • persoalan politik
Faktor eksternal yaitu :

  • banyaknya Umat Islam yang sebelumnya telah beragama 
  • Adanya Usaha Mempertahankan Keyakinan
C. ALIRAN-ALIRAN 
  1.  Khawarij 
Khawarij berasal dari kata kharaja, artinya ialah keluar, dan yang dimaksudkan disini ialah mereka yang keluar dari barisan Ali sebagai diterimanya arbitse oleh Ali. golongan ini kecewa terhadap keputusan Ali. Secara umum, konsep mereka tentang iman bukan pembenaran dalam hati semata-mata. Pembenaran hati (al-tasdiq bi al-qabl) menurut mereka, mestilah disempurnakan dengan menjalankan perintah agama. Seseorang yang telah memercayai bahwa tiada Tuhan melainkan Allah dan Muhammad itu utusan  Allah, tapi ia tidak melakukan kewajiban agama, berarti imannya tidak benar, maka ia akan menjadi kafir.
Pengikut Khawarij terdiri dari suku Arab Badui yang masih sederhana cara berpikirnya. Jadi sikap keagamaan mereka sangat ekstrem dan sulit menerima perbedaan pendapat. Mereka menganggap orang yang berada di luar kelompoknya adalah kafir dan halal dibunuh. Sikap picik dan ekstrem ini pula yang membuat mereka terpecah menjadi beberapa sekte.Tokoh-tokoh Dalam Aliran Khawarij: Urwah bin Hudair, Mustarid bin Sa'ad, Hausarah al-Asadi, Quraib bin Maruah, Nafi' bin al-Azraq, dan 'Abdullah bin Basyir.

    2. Syiah

   Syiah dalam bahasa Arab artinya ialah pihak, puak, golongan, kelompok atau pengikut sahabat atau penolong. Pengertian itu kemudian bergeser mempunyai pengertian tertentu. Setiap kali orang menyebut syiah, maka asosiasi pikiran orang tertuju kepada syiah-ali, yaitu kelompok masyarakat yang amat memihak Ali dan dan memuliakannya beserta keturunannya. Kelompok tersebut lambat laun membangun dirinya sebagai aliran dalam Islam. Adapun ahl al-bait adalah “family rumah nabi”. Menurut syiah yang dinamakan ahl bait itu adalah Fatimah, suaminya Ali, Hasan dan Husein anak kandungnya, menantu dan cucu-cucu Nabi, sedang isteri-isteri nabi tidak termasuk Ahl alBait.

3. Murjiah
  
   Berasal dari bahasa Arab irja artinya penundaan atau penangguhan. Karena sekte yang berkembang pada masa awal islam yang dapat diistilahkan sebagai “orang-orang yang diam”. Mereka meyakini bahwa dosa besar merupakan imbangan atau pelanggaran terhadap keimanan dan bahwa hukuman atau dosa tidak berlaku selamanya. Oleh karena itu, ia menunda atau menahan pemutusan dan penghukuman pelaku dosa di dunia ini. Hal ini mendorong mereka untuk tidak ikut campur masalah politik. Satu diantara doktrin mereka adalah shalat berjamaah dengan seorang imam yang diragukan keadilannya adalah sah. Doktrin ini diakui oleh kalangan islam sunni namun tidak untuk kalangan syiah.

4. Jabariyah

  Berasal dari kata jabara yang berarti memaksa dan mengharuskannya melaksanakan sesuatu atau secara harfiah dari lafadz al-jabr yang berarti paksaan. Selanjutnya kata jabara setelah ditarik menjadi jabariyah memiliki arti suatu aliran. Lebih lanjut Asy- Syahratsan menegaskan bahwa paham Al jabr berarti menghilangkan perbuatan manusia dalam arti yang sesungguhnya dan menyandarkannya kepada Allah, Dengan kata lain manusia mengerjakan perbuatannya dalam keadaan terpaksa.

5. Qadariyyah

  Berasal dari kata “qodara” yang artinya memutuskan dan kemampuan dan memiliki kekuatan, sedangkan sebagai aliran dalam ilmu kalam memberikan penekanan terhadap kebebasan dan kekuatan manusia dalam menghasilkan perbuatan-perbuatannya. 

6. Mu'tazilah

   Berasal dari kata I‟tazala dengan makna yang berarti menjauhkan atau memisahkan diri dari sesuatu. Pemimpian tertua di aliran Mu‟tazillah adalah Washil ibn Atha. Ada kemungkinan washil ingin mengambil jalan tengah antara khawarij dan murjiah, melainkan berada di dua posisi. Alasan yang dikemukakan adalah bahwa orang yang berdosa besar itu masih ada imannya tetapi tidak pula dapat dikatakan mu‟min karena ia telah berdosa besar. Orang yang serupa itu apabila meninggal dunia maka ia akan kekal di dalam neraka, hanya azabnya saja yang lebih ringan dibandingkan orang kafir. Itulah pemikiran Washil yang pertama sekali muncul.

7. Asy’ariyyah

       Nama lain dari aliran ini adalah Ahlu Sunnah wal Jamaah.Menurut aliran ini Allah mempunyai beberapa sifat dan sifat-sifat itu bukan zat-Nya dan bukan pula selain zat-Nya, namun ada pada zat-Nya. Meskipun penjelasan Asy‟ariyyah itu mengandung kontradiksi, hanya dengan itulah aliran tersebut dapat melepaskan diri dari paham ta’addud al- qudama (banyaknya yang kadim) setidak-tidaknya menurut pemikiran mereka.

8. Maturidiyyah

 Diambil dari nama tokoh pertama yang tampil mengajukan pemikiran sendiri. Nama lengkapnya adalah Abu Mansur Muhammad Ibn Mahmud al-Maturidi. Beliau lahir di Samarkand pada pertengahan kedua abad kesembilan Masehi kedua abad ke-9 M dan meninggal tahun 944 M. Aliran Maturidiyyah yang dikatakan tampil sebagai reaksi terhadap pemikiran-pemikiran mu‟tazzilah yang rasional itu, tidaklah seluruhnya sejalan dengan pemikiran yang yang diberikan oleh al-asy‟ari. Sebagaimana dijelaskan sebelumnya bahwa pemikiran teologi asy‟ari sangat banyak menggunakan makna teks nash agama (Quran dan Sunnah), maka Maturidiyyah dengan latar belakang mazhab Habafi yang dianutnya banyak menggunakan takwil.


Komentar