Al-Qur'an Dan Metode Penafsirannya

 Al-Qur'an menjadi petunjuk bagi hidup manusia. Namun tidak semua memiliki pengetahuan yang mumpuni untuk membedah isi al-Quran. Kecakapan interpretasi harus dikuasai terlebih dahulu sebagai gerbang utama untuk memasuki tentang al-Quran. Sehingga bermacam metodologi tafsir telah dirancang oleh para cendekiawan Islam, khususnya para mufasir.

A. Definisi, Isi dan Fungsi Al-Qur'an.   

Secara etimologi AlQur’an merupakan kata yang diambil dari bahasa arab, yaitu bentuk jamak dari kata benda ke kata kerja qara’a–yaqra’u -qur'anan yang berarti bacaan atau sesuatu yang dibaca berulang kali. Pemakaian kata itu dapat kita jumpai pada surah al-Qur’an yaitu pada surat al-Qiyamah ayat17–18. Sedangkan secara terminologi, al-Qur’an dimaknai kalam Allah swt yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad saw sebagai bentuk mukjizat, penyampaian mutawatir dari Allah swt dengan perantara malaikat jibril dan ketika kita membaca al-Qur’an dinilai ibadah kepada Allah swt.

Isi Al-Qur’an mencakup dan menyempurnakan pokok-pokok ajaran dari kitab-kitab Allah SWT yang terdahulu seperti Taurot, Injil dan Zabur. Sebagian ulama mengatakan bahwa Al-Qur’an mengandung tiga pokok ajaran yaitu: 

- keimanan

-akhlak dan budi pekerti

- aturan tentang pergaulan hidupsehari-hari antar sesama manusia. Sebagian ulama yang lain berpendapat bahwa Al-Qur’an berisi dua peraturan pokok yaitu:

- mengatur hubungan manusia dengan Allah SWT

-hubungan manusia dengan sesamanya dan dengan alam sekitarnya. 

Menurut Prof. Dr. Moh Matsna HS, MA, Al-Qur'an memiliki 3 fungsi yaitu:

1. Petunjuk bagi Manusia 

Al-Qur’an memberikan petunjuk dalam persoalan-persoalan akidah, syariah dan akhlak dengan jalan meletakkan dasar-dasar prinsip mengenai persoalan-persoalan tersebut, dan Allah menugaskan Rasulallah, untuk memberikan keterangan yang lengkap mengenai dasar-dasar itu.

2. Sumber Pokok Ajaran Islam

Allah menerangkan segala sesuatu yang di perlukan manusia, baik mengenai urusan akhirat maupun mengenai urusan dunia. Penerangan-penerangan itu adakalanya disampaikan secara garis besarnya saja dan secara rinci.

3. Peringatan dan Pelajaran bagi Manusia

Didalam Al-Qur’an banyak tedapat kisah para nabi atau rasul beserta umatnya. Ada yang mengungkap kebaikan-kebaikannya yaitu kepatuhan dan ketaatan umat kepada rasulnya dan ada yang mengungkapkan keburukan-keburukannya yaitu keingkaran dan kesombongan umat kepada rasulnya. Kesemuanya itu merupakan peringatan dan pelajaran bagi kita.

B. Bukti Orientasi Al-Qur'an 

Al-Qur'an merupakan mukjizat besar yang di turunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Salah satu keajaiban Al-Qur’an adalah terpelihara keasliannya dan tidak berubah sedikitpun sejak pertama kali di turunkan pada malam 17 ramadhan, 14 abad yang lalu hingga kiamat nanti. Otentisitas Al-Qur’an sudah dijamin oleh Allah. Bukti otentisitas ini adalah banyaknya penghafal Al-Qur’an yang terus lahir ke dunia dan pengkajian ilmiah terhadap ayat-ayatnya yang tak pernah berhenti.

Berikut beberapa fakta ilmiah yang ada di Al-Qur’an : 

- Fakta penciptaan berpasang-pasangan dalam Q.S Yasin ayat 36 dan Q.S Adz-zaariyat ayat 49.

- Fakta tentang jenis kelamin bayi dalam Q. S An-Najm ayat 45-46.

- Fakta tentang menyusui bayi selama 2 tahun dalam Q. S Luqman ayat 14.

C. Definisi, Fungsi dan Metodologi Tafsir

Kata tafsir di ambil dari kata fassara-yufassiru—tafsiran yang berarti keterangan atau uraian. Menurut pengertian bahasa adalah al-kasyfal-idzhar yang ardnya menyingkap / membuka dan melahirkan. Pada dasarnya pengeritan tafsir berdasarkan bahasa tidak akan lepas dari kandungan makna al-idhah (menjelaskan), al-hayan (menerangkan), al-kasyf (mengungkapkan), al-izhar (menampakkan) dan al-ibanah (menjelaskan).

Dari beberapa pendapat ulama, pengertian tafsir adalah“suatu hasil usaha tanggapan, penalaran dan ijtihad manusia untuk menyingkap nilai-nilai samawi yang terdapat di dalam Al-Qur’an."

Fungsi tafsir adalah untuk mengetahui makna kata-kata dalam al-Qur’an menjelaskan pengertian setiap ayat, menyingkap hukum dan hikmah yang dikandung al-Qur’an. Menyampaikan pembaca kepada apa yang di inginkan oleh Syari (pembuat syari`'at) yaitu Allah SWT agar memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat. Tafsir berdasarkan sumbernya dapat diklasifikasi menjadi 3 yaitu tafsir Bial-Ma’tsur, tafsir Biar-Ra’yi, dan  tafsir Isyari.

Sedangkan metodologi yang digunakan dalam tafsir ada 4, yaitu:

1. Metode Tahlili (Analitik)

Menjelaskan ayat-ayat Al-Qur’an dengan meneliti aspeknya dan menyingkap seluruh. Mulai dari uraian makna kosa kata, makna kalimat, maksud setiap ungkapan, kaitan antara pemisah (munasabat),hingga sisi keterkaitan antar pemisah itu(wajhal-munasabat) dengan bantuan asbaban-nuzul, riwayat-riwayat yang berasal dariNabi Saw. sahabat, dan tabi’in. Contoh kitab tafsir ini adalah Tafsir Jalalain, Tafsir Tambirul Miqbas, Tafsir Ibnu Katsir, dan lain-lain.

2. Metode Ijmali (Global)

Menafsirkan Al-Qur’an secara global. Dengan metode ini muffasir berupaya menjelaskan makna-makna Al-Qur’an secara singkat, komprehensif dan mudah dipahami oleh semua orang secara umum. Metode ini hampir sama dengan metode tahlili dilakukan terhadap ayat perayat dan persurat dengan urutannya dalam mushaf sehingga tampak terkait antara makna satu ayat dan ayat yang lain, antara surat dan surat yang lain.

3. Metode Muqaran (Perbandingan /Komparasi)

Membandingkan ayat-ayat Al-Qur’an yang berbicara tentang tema tertentu atau membandingkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan hadits-hadits Nabi, termasuk hadits-hadits yang makna tekstualnya tampak kontradiktif dengan Al-Qur’an atau membandingkan Al-Qur’an dengan kajian-kajian lainnya.

4.Metode Maudhu’i (Tematik)

Mengumpulkan ayat-ayat al-qur’an yang mempunyai tujuan yang satu yang bersama-sama membahas judul / topik / sektor tertentu dan menertibkannya sedapat mungkin sesuai dengan masa turunnya selaras dengan sebab-sebab turunnya.  Kemudian memperhatikan ayat-ayat tersebut dengan penjelasan-penjelasan, keterangan-keterangan dan hubungan-hubungannya dengan ayat-ayat lain, kemudian mengistimbatkan hukum-hukum.

Komentar